Maret 30, 2010

acfta dorong farmasi ri lebih kompetitif

Posted in pharmacy industry tagged , pada 8:46 am oleh Pharmacy Education

Dikutip dari Bisnis Indonesia 27 Maret 2010
oleh: Afriyanto

Industri farmasi Indonesia bisa memanfaatkan pasar bebas Asean – China (ACFTA) untuk mendapatkan bahan baku murah sehingga produk jadinya bisa lebih kompetitif.

Pakar ekonomi Faisal Basri mengatakan, China merupakan salah satu sumber utama bahan baku farmasi Indonesia.

“Dengan demikian, perdagangan bebas dengan China memungkinkan industri farmasi Indonesia dapat lebih bersaing dengan industri farmasi di negara lain yang menerapkan tarif atas impor bahan baku farmasi,” ujarnya dalam satu seminar di Jakarta, kemarin.

Dengan mendapatkan bahan baku murah, industri farmasi Indonesia bisa menekan biaya produksi yang pada gilirannya dapat menekan harga jual obat, sehingga bisa mengekspor produknya ke negara-negara yang masih menerapkan tarif impor bahan baku.

Menurut Faisal, sebagian besar kebutuhan bahan baku obat Indonesia diperoleh dari China. Dia mencontohkan impor paracetamol dari China pada 2007 mencapai 99% dari total kebutuhan, dengan nilai USD 12,7

Bahan baku obat lainnya, antara lain adalah amoxycilin 20% (USD 2,6 juta), antalgin 73% (USD 1,78 juta) dan antipyrin sebanyak 90% atau senilai USD 3,95 juta.

Secara keseluruhan, perdagangan produk farmasi Indonesia masih mengalami defisit dengan kecenderungan berfluktuasi. Jika pada 2001 defisitnya sebesar USD 19 juta, pada 2007 melonjak menjadi USD 123,5 juta, tapi tahun berikutnya (2008) turun menjadi USD 100,3 juta.

Daya Saing

Pada sisi lain, industri farmasi Indonesia cukup memiliki daya saing di pasar ekspor untuk produk tertentu, seperti obat ethical, serum dan vaksin.

Pada obat ethical, neraca perdagangan selalu surplus, tetapi sayang volume perdagangan obat jenis ini masih relatif kecil.

“Perdagangan serum dan vaksin juga tumbuh pesat. Posisi Indoneisa dalam pasar kedua produk itu saemakin penting. Ekspor serum dan vaksin naik jauh lebih cepat ketimbang impornya.” tutur Faisal.

Selama ini mitra utama Indonesia dalam perdagangan produk farmasi adalah India, Korea Selatan dan Jepang. Ekspor ke India sebagian besar untuk produk vaksin, sedangkan ekspor ke Korsel dan Jepang kebanyakan obat non-ethical.

Menurut Faisal, di lingkup Asean dan Asia industri farmasi Indonesia relatif masih lebih baik, kecuali dengan Malaysia dan China.

Namun terhadap industri farmasi Eropa dan Amerika, industri di tanah air masih jauh tertinggal.

1 Komentar »

  1. tulisan yang bagus teman.. salam blogger..

    kunjung balik yah..
    http://programatujuh.wordpress.com/

    ada tulisan baru berjudul “Berkah Kegagalan” dan “Ayo Menulis”. mohon kritik dan sarannya, supaya tulisan ini menjadi lebih baik, trima kasih..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: