Maret 1, 2010

Industri farmasi dituntut effisiensi total

Posted in pharmacy industry tagged , pada 12:18 pm oleh Pharmacy Education

Dikutip dari Bisnis Indonesia, 27 Januari 2010
Oleh: Afriyanto

Industri farmasi nasional diharapkan melakukan effisiensi total dengan menetapkan harga pokok produksi (HPP) kurang dari 30% dari harga jual pabrik (HJP), tanpa mengesampingkan aspek kualitas produk dan produksi.

Ahaditomo, anggota kelompok kerja (pokja) penyusunan Road Map reformasi sector kesehatan nasional yang dikeluarkan CSIS , mengatakan selain di sisi produksi, industri farmasi juga harus mampu menekan biaya distribusi, dimana biayanaya maksimal 10% dari harga jual pabrik.

Dengan standar ini, besaran distribusi harus sangat besar supaya rasio biaya distribusi menjadi kecil.

“Effisiensi ini sudah menjadi keharusan. Ini penting agar industri farmasi Indonesia memiliki daya saing yagn tinggi, baik di tingkat regional maupun global dalam suplai produk obat dan farmasi,” ujuarnya baru – baru ini.

Effisiensi produksi dan distribusi ini seyogianya difokuskan pada kelompok obat esensial yang paling banyak dikonsumsi masyarakat, sedangkan bagi produksi obat yang menggunakan dana APBN, pemerintah dapat menetapkan harga jual serta volume produksinya.

Ahaditomo mengakui bahwa inefisiensi di industri farmasi menjadi salah satu titik kelemahan paling krusial, yang menyebabkan daya saing Indonesia menjadi rendah dibanding negara negara lainnya.

Menurut dia, pemerintah harus pro aktif mendukung upaya effisiensi ini, misalnya dengan mendorong terwujudnya pembangunan inndustri bahan baku obat di tanah air.

Pemain farmasi nasional harus mampu memanfaatkan potensi pasar di dalam negeri yang begitu besar, yang didukung oleh populasi penduduk yang beasr mencapai 250 juta jiwa.

Tahun ini saja, lanjutnya pasar obat-obatan di dalam negeri di proyeksikan mencapai Rp. 37 triliun. Jika nilainya diasumsikan konstan setiap tahunnya, selama 10 tahun kedepan total pasar farmasi nasional berarti bakal mencapai Rp. 370 triliun.

Ahaditomo menambahkan bahwa kesepakatan pasar besar Asean – China (ACFTA) akan mengancam industri farmasi lokal, karena produk obat-obatan China bakal membanjiri pasar dalam negeri.

Oleh karena itu, lanjutnya, tidak ada jalan lain bagi industri domestic kecuali meningkatkan efisiensi produksi dan distribusi.

Dengan efisiensi dan didukung peningkatan pemakaian kandungan lokal (antara lain bahan baku), maka industri farmasi Indonesia diharapkan tidak hanya mampu membendung serangan produk impor, tapi justru dapat mengeskpor produknya ke manca negara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: