Februari 25, 2010

indonesia harus produksi 30% bahan baku obat

Posted in pharmacy industry tagged , , pada 9:37 am oleh Pharmacy Education

Dikutip dari Bisnis Indonesia, 22 Januari 2010
Oleh Afriyanto

Dalam 10 tahun kedepan, Indonesia diharapkan mampu memproduksi obat minimal 30% dari kebutuhan nasional baik dalam hal jenis maupun volumen konsumsi.

Jika hal itu terwujud, setelah 2020 Indonesia bisa menjelma dari pengimpor obat jadi menjadi negara produsen dan konsumen obat dengan harga yang kompetitif di kawasan Asia.

Untuk mewujudkan ambisi ini harus ada intervensi dari pemerintah yang tidak cukup hanya Menteri Kesehatan, melainkan langsung dikomandoi oleh Wakil Presiden yagn mengoordinasi beberapa departemen dan instansi terkait.

Konsep ini tersaji dalam Road Map reformasi sector kesehatan nasional yang disusun oleh CSIS (Center for Strategic & International Studies), melalui kelompok kerja (pokja) yang terdiri dari 27 orang dengan beragam latar belakang kepakaran, mulai dari praktisi farmasi & kesehatan, pengamat ekonomi, ilmuwan hingga tokoh organisasi kemasyarakatan.

Road Map reformasi sector kesehatan nasional tersebut telah disampaikan kepada Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih beberapa waktu lalu.

Ahaditomo, anggota pokja, mengatakan intervensi pemerintah sangat diperlukan tidak hanya untuk pembuatan bahan baku obat, tapi demi peningkatan kiprah industri farmasi Indonesia agar menjadi pemain kelas dunia.

“Effisiensi industri farmasi nasional sangat rendah, baik dari sisi produksi maupun distribusi. Nah, produksi bahan baku obat ini meurpakan salah satu upaya untuk meningkatkan efisiensi tersebut,” ujarnya kemarin.

Menurut dia, paling lambat 10 tahun mendatang Indonesia harus sudah memiliki industri bahan baku obat yang mampu memenuhi sedikitnya 30% dari total kebutuhan nasional.

Dengan adanya pasokan bahan baku dari dalam negeri, maka biaya produksi akan menurun, yang pada gilirannya harga jual bisa lebih murah sehingga bisa bersaing dengan produk serupa dari luar negeri.

“Dengan populasi 250 juta jiwa, pasar farmasi Indonesia tentu sangat menggiurkan. Oleh karenaitu, peluang ini harus ditangkap, jangan sampai direbut oleh pesaing dari luar negeri”, papar Ahaditomo.

Pasar Rp. 37 triliun

Tahun ini saja pasar obat-obatan di tanah air diproyeksikan mencapai Rp. 37 triliun. Jika nilainya diasumsikan konstan setiap tahunnya, maka selama 10 tahun ke depan total pasar farmasi nasional berarti bakal mencapai Rp.370 triliun.

Indoneia juga harus mampu berkiprah di pasar internasional, tidak hanya sekedar Afrika dan Kamboja, tetapi di Amerika dan Eropa.

Sebelum mewujudkan ambis tersebut, industri farmasi Indonesia terlebih dahulu harus memiliki visi.”Kami menilai farmasi Indonesia harus memiliki visi pada tiga aspek, yakni kemandirian, ketahanan nasional dan pendapatan,” paparnya.

Menurut dia, visi ini sengaja dikedepankan oleh pokja CSIS, karena mereka menilai pemerintah sama sekali tidak punya visi dalam mengembangkan industri farmasi di Indonesia.

“Pemerintah tidak jeli dan tidak punya visi, mau dibawa kemana industri farmasi ini. Oleh karena itulah, kami mencoba memberikan ide pemikiran demi tercapainya kemandirian industri farmasi.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: