Februari 23, 2010

farmasi asing mulai berkonsolidasi

Posted in pharmacy industry tagged , , pada 2:53 am oleh Pharmacy Education

Dimuat di Bisnis Indonesia, 23 Februari 2010
oleh: Afriyanto & Rahmayulis Saleh

Sejumlah perusahaan farmasi asing mulai berkonsolidasi guna menyesuaikan diri dengan Permenkes 1010/2008 tentang Registrasi Obat. Aturan ini menetapkan registrasi dan izin edar obat hanya diberikan kepada perusahaan farmasi yagn melakukan aktivitas produksi di dalam negeri

Konsolidasi tersebut antara lain beruapa rencana investasi dan kerjasama dengan perusahaan farmasi lain untuk memproduksi atau memasarkan obat di dalam negeri.

Dua perusahaan farmasi kelas dunia, AstraZeneca dan B-Brown, misalnya, berencana untuk emmbangun pabrik di Indonesia guna memenuhi Permenkes tersebut. Satu perusahaan asing lainnya siap bekerja sama dengan kelompok Combiphar dalam hal distribusi obat.

Pekan lalu, PT. Roche Indonesia dan PT. Bohringer Ingelheim Indonesia juga meresmikan kerjasama untuk memproduksi obat etikal. Dalam kerjasama itu, PT. Boehringer Ingelheim melalui kontrak layanan berjenjang akan emngambil alih tanggung jawab perizinan dan menerima izin produksi untuk berbagai produk terapi Roche.

Roche Indonesia meruapakan anak perusahaan Roche, perusahaan bioteknologi terbesar di dunia yang memproduksi obat-oabtan untuk penyakit kanker, virologi, peradangan, metabolisme dan penyakit gangguan sistem syaraf pusat.

Melalui kerjasama itu, Roche ingin menjamin ketersediaan obat life-saving yagn sudah ada dan yang akan datang sesuai dengan Permenkes no 1010/2008.

Caranya antara lain kami bermitra dengan PT. Boehringer sebuah perusahaan yang berpengalaman luas dalam produksi skala besar dan memiliki repustasi yang baik dengan badan perizinan, kata Presiden Direktur Roche Indonesia Ait-Allah Mejri.

Perluas Kerjasama
Andrew Halliday Eve, Presiden Direktur PT. Boehringer, menuturkan Roche merupakan mitra yang ideal dan pihaknya berniat memperluas kerjasama tersebut, baik di bidang perizinan maupun produksi.

Kami berkomitmen memberikan layanan dan produk berkualitas, sesuai dengan baku mutu internasional kepada mitra usaha kami, khususnya Roche, ujarnya.

Ketentuan emngenai registrasi obat dalam Permenkes no. 1010/2008 berlaku baik untuk obat produksi dalam negeri, obat kontrak (toll manufacturing/ memproduksi obat milik produsen tertentu melalui fasilitas pabrik pihak lain), maupun obat impor.

Khusus obat impor, registrasinya dilakukan oleh industri farmasi dalam negeri yang mendapatkan persetujuan tertulis dari industri faramasi dari luar negeri.

Persetujuan tersebut harus mencakup alih teknologi, dengan ketentuan paling lambat dalam jangka 5 tahun obat tersebut sudah harus dapat diproduksi di Indoensia.

Permenkes itu memberi tenggat selama 2 tahun bagi industri farmasi untuk berbenah dan mematuhinya.

Anggota dewan pembina Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Ahaditomo mengatakan pelaku usaha farmasi tidak ebralasan untuk menentang, apalagi menolak kebijakan tersebut. Industri farmasi seharusnya bisa menyesuaikan diri dengan kebijakan tersebut.

Ini bagian dari kebijakan pemerintah guna mengakselerasi pembangunan, termasuk kesehatan dan farmasi, ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: