November 6, 2009

Formulasi Ekstrak Tanaman Menjadi Bentuk Sediaan

Posted in scientific articles tagged pada 6:38 pm oleh Pharmacy Education

oleh: Goeswin Agoes

Formulasi ekstrak tanaman menjadi bentuk sediaan merupakan masalah yang tidak mudah dan tidak dapat dipandang hanya sebagai maslah teknologi farmasi saja.

Berbeda dengan zat murni, baik hasil sintesis maupun berasal dari alam, ekstrak adalah bahan baku yang mengandung beraneka ragam bahan aktif , tetapi dalam jumlah kecil. Sebagian besar merupakan bahan bahan sekunder (garam organik dan anorganik, gula, gula polisakahrida, dsb) yang dapat mempengaruhi teknologi pembuatan dan stabilitas sediaan farmasi

Sebelum dikembangkan untuk formulasi sediaan farmasi, pada ekstrak tanaman harus dilakukan terlebih dahulu perlakukan awal, seperti menghilangkan lemak (defatting) dan inaktivasi enzim. Tujuan utama perlakukan awal tersebut adalah:
Menghilangkan bahan tidak aktif berupa minyak dan lemak yang akan mnghalangi mendapatkan/membuat ekstrak kering dan sediaan farmasi berbentuk padat
Menghentikan degradasi oleh enzim bahan berkhasiat yang selalu harus diperhatikan dalam medium air atau dalam alkohol encer.

Ekstrak tanaman dapat dikelompokkan dalam 2 kelompok utama, yaotu ekstrak total dan ekstrak yang dimurnikan. Terminologi total atau ekstrak traditional menunjukkan ekstrak mengandung semua bahan terekstraksi yang diperoleh dengan penarikan menggunakan suatu pelarut, lazimnya air atau cairan hidroalkohol. Ekstrak yang dimurnikan berarti ekstrak tidak lagi mengandung zat zat yang tidak diperlukan dan tidak mempengaruhi proses penghilangan zat inert dengan berbagai cara (menghilangkan lemak atau dilewatkan melalui resin absorpsi) sesudah ekstraksi primer. Terminologi zat inert digunakan terutama untuk resin, lemak dan gula –gula. Semua bahan yang merupakan penghalang/penghambat utama dalam pembuatan sediaan farmasi, terutama bentuk sediaan padat yang bersifat higroskopis, menyebabkan pelengketan sehingga menimbulkan banyak masalah dalam formulasi. Ekstrak tradisional dikenal dalam bentuk cair, kenatl dan padat, sedangkan ekstrak yang dimurnikan hanya berada dalam bentuk kering. Kandungan zat berkhasiatnya sangat bervariasi, misalnya kadar minimum adalah 20% dari keseluruhan ekstrak, sedangkan dalam beberapa kasus dapat mencapai 60% – 70%

Suatu hal yang perlu diperhatikan dan disadari dengan baik ialah ekstrak yang dimurnikan bukanlah bentuk antara dari ekstrak tradisional dengan bahan aktif murni. Ekstrak yang dimurnikan mempunyai identitas dan validitas sendiri karena merupakan campuran alamiah dari zat – zat yang mempunyai hubungan secara kimiawi. Semuanya membantu aktivitas yang sama atau bersamaan secara farmakologi

dikutip dari: Teknologi Bahan Alam

klik disini untuk informasi lebih detail tentang buku “Teknologi Bahan Alam”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: