November 4, 2009

INTERAKSI DENGAN KEMASAN DAN MENUTUP KEMASAN

Posted in scientific articles tagged , pada 6:47 am oleh Pharmacy Education

oleh: Goeswin Agoes

Pengaruh kemasan terhadap sediaan farmasi yang diawetkanbergantung pada interaksi antara bahan baku penemas dan pengawet atau antara kemasan dan mikroba pencemar (sorpsi dan sesorpsi).

Pengawet dapat berinteraksi dengan kemasan sehingga menyebabkan terjadinya penurunan konsentrasi pengawet dalam fasa air yang tersedia. Antaraksi antara pengawet dengan kemasan dapat terjadi melalui partisi atau adsorpsi pada permukaan kemasan.

Mikroorganisme dapat pula berinteraksi dengan permukaan kemasan dengan cara adsorpsi yang menyebabkan adanya resistensi terhadap sistem pengawet. Interaksi ini terjadi terutama jika sediaan berbentuk cairan (larutan, suspensi, emulsi). Kemasan yang umum digunakan terbuat dari bahan gelas dan plastik. Gelas bersifat inert, interaksi denganpengawet hanya melalui adsorpsi. Adsorpsi mikroba pada permukaan gelas dilaporkan pada Ps. cepadia yang dapat diinaktivasi dengan 0.05% b/v CHDNE. Mikroba lain yang dilaporkan teradsorpsi pada permukaan gelas adalah Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus, dan Escheria coli. Plastik digunakan secara luas untuk produk steril multi dose, cairan lensa kontak, dan tetes mata. Saat ini digunakan pula untuk sediaan non steril, seperti krem dan salap yang dikemas dalam kemasan kaku (rigid), atau plasti kolapsible dan tube metal-plastik dilaminasi.

Interaksi utama plastik-pengawet adalah melalui adsorpsi. Karakteristiknya bervariasi bergantung pada jenis plastik dan pabrik pembuatnya. Penelitian larutan paraben yang dikemas dalam kemasan plastik, ester rantai panjang, diadsorpsi lbih tinggi / banyak daripada ester rantai pendek. Hal ini penting sekali diperhatikan terutama jiak digunakan kombinasi paraben sebagai pengawet. Penelitian yang sama dilakukan pula dengan menggunakan pengawet turunan merkuri. Dalam jangka waktu 3 bulan, konsentrasi pengawet menurun bergantung pada jenis pengawet dan jenis plastik yang digunakan. Penggunaan pengemas plastik untuk cairan lensa kontak menunjukkan adanya kehilangan yang bermaksn pada tiomersal dan klorbutol.

Penutup karet untuk kemasan injeksi multidose dapat pula berinteraksi dengan sistem pengawet. Dalam hal ini pengawet diadsoprsi ke dalam karet. Jadi, terpartisi antara fasa air formulasi dan penutup karet. Pengawet dengan kelarutan lipid besar diadsorpsi lebih banyak dibandingkan dengan pengawet yang memiliki tingkat kelarutan lipid lebih kecil. Oleh karena itu, fenil merkuri nitrat diabsropsi lebih banyak daripada fenol. Untuk mengatasi absorpsi ini, penutup karet dijenuhkan dengan pengawet terlebih dahulu, misalnya dengan cara menggodoknya dengan larutan pengawet.

Walaupun kemasan dan penutup wadah merupakan barrier utama terhadap mikroorganisme dari luar, tetapi dapat pula menjadi penyebab menurunnya konsentrasi pengawet sehingga sistem pengawet menjadi tidak effektif.

dikutip dari: Pengembangan Sediaan Farmasi

klik disini untuk mengetahui lebih lanjut mengenai buku Pengembangan Sediaan Farmasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: