Oktober 26, 2009

PERANAN KELARUTAN OBAT DALAM PENGEMBANGAN FORMULASI

Posted in training tagged , pada 7:45 pm oleh Pharmacy Education

Lebih sepertiga dari obat dalam monografi USP dapat dikelompokkan pada obat yang tidak larut atau hampir tidak larut; sedangkan kelarutan obat sangat penting sekali dalam pengembangan metoda analisis, mengembangkan formulasi obat, ketersedian hayati sediaan, & transpor obat dalam tubuh manusia.

Banyak sekali buku dan publikasi yang membahas masalah kelarutan secara teoritis, sudah barang tentu hal itu akan baik sekali, akan tetapi dalam pengembangan produk yagn jauh lebih diperukan adalah aspek praktis dan cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kelarutan obat

Untuk pasien yang tidak sadar, obat diberikan dalam bentuk injeksi dan hal yang sama juga berlaku untuk obat yang dirusak oleh enzim digesif apabila obat digunakan secara oral; oleh karena itu harus diberikan secara parenteral. Sediaan untuk injeksi intramuskuler dan subkutan biasanya diberikan dalam bentuk larutan, sedangkan sediaanyang diberikan secara intravena harus berada dalam bentuk larutan, begitu juga sediaan makanan yang diberikan secara enteral memerlukan kondisi yang sama.

Kadang kadang pemakaian pelarut efisien tidak sesuai (karena toksik, dan di merika Serikat telah memakan korban ratusan orang karena menggunakan pelarut toksik dalam sediaan cair) sehingga terpakasa harus menggunakan pelarut  kurangefisien akan tetapi aman dalam sediaan.

Oleh karena itu kadan kadang struktur solut terpaksa harus dimodifikasi untuk meningkatkan kelarutan obat dalam air, sebagai contoh hidrokortison yang tidak larutdalam air,dirubah jadi hidrokortison hemi suksinat yang larut dalam larutan air alkalin.

Larutan sediaan farmasetik tidak selalu sederhana dan sering mengandung lebih dari satu solut yang kadangkadang menunjukkan karakteristik kelarutan berbeda. Pada situasi seperti ini digunakan pelarut campur, yang memerlukan pengetahuan tidak hanya perilaku solut dalam larutan saja, tapi juga tentang ketercampuran dari pelarut.

Dalam Farmakope Indonesia 4 (1995) dan USP, kebanyakan untuk sediaan tablet dipersyaratkan disolusi obat dan obat yang harus terdisolusi dalam waktu tertentu (30 menit, 45 menit dan lain sebagainya), termasuk untuk obat sukar larut; oleh sebab itu perlu dilakukan peningkatan kecepatan dan disolusi obat sehingga aman untuk penderita.

Waktu Pelatihan: 1 hari penuh

Materi pelatihan ini telah tersedia, untuk info lebih lanjut hubungi: rizanovara@gmail.com atau rizanovara@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: